TUGAS KELOMPOK
EKONOMI SUMBERDAYA
PERAIRAN
(EKOSISTEM
TERUMBU KARANG)
OLEH :
KELOMPOK II :
HAMSIA : I1A1 10 077
WD. INTIYANI M. : I1A1 10 165
HASNA WATI LAJAWUA : I1A1 10 105
ANDI BESSE TENDRI : I1A1
10 065
SUKMAWATI : I1A1 10 067
HELDAWATI : I1A1 10 031
EKA FAUZIAH : I1A1 10 087
VEBIANSYAH HALIDUN : I1A1 10 015
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013
A.
Definisi
Ekosistem Terumbu Karang
Terumbu karang
merupakan komunitas yang unik diantara komunitas laut lainnya dan mereka semua
terbentuk seluruhnya dari aktivitas biologi. Pada dasarnya karang merupakan
endapan massive kalsium karbonat (kapur)
yang diproduksi oleh hewan karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur
dan organisme-organisme lain penghasil kalsium karbonat.
Struktur masif bawah laut yang terdiri dari endapan kalsium karbonat
yang dibentuk oleh hewan karang dan biota yang berasosiasi dengannya, termasuk
berbagai macam alga.

Gambar 1. Ekosistem Terumbu karang
Pembentukan
terumbu karang merupakan proses yang lama dan kompleks.
Berkaitan dengan pembentukan terumbu, karang terbagi atas dua kelompok
yaitu karang yang membentuk terumbu (karang hermatipik) dan karang yang tidak dapat
membentuk terumbu (karang
ahermatipik).
a.
Kelompok pertama dalam prosesnya bersimbiosis dengan zooxanthellae
dan membutuhkan sinar matahari untuk membentuk bangunan dari kapur yang kemudian dikenal reef building
corals, Karang Hermatifik, merupakan kelompok
karang penghasil terumbu, berkoloni, dan bersimbiosis dengan zoocantela, dan
yang mengekresikan CaCO3 contoh, Acropora sp. Karang hermatipik
(hermatypic coral) adalah
kelompok karang yang tumbuh terbatas di daerah hangat dengan penyinaran yang
cukup karena adanya simbion alga (zooxanthellae)
b.
Sedangkan kelompok
kedua tidak dapat membentuk bangunan kapur (Ahermatipik) sehingga dikenal
dengan non–reef building
corals yang secara normal hidupnya tidak tergantung pada sinar matahari
(Veron, 1986). kelompok
karang yang bukan penghasil terumbu, soliter, dan tidak bersombiosis dengan zoocantela,
dan memiliki tekstur tubuh yang lunak. contoh, Millipora sp. karang ahermatipik
(ahermatypic coral) yang
tidak membentuk terumbu karang (Supriharyono, 2000). Karang ahermatipik hidup
di tempat yang lebih dalam. Karang hermatipik lebih cepat tumbuh dan lebih
cepat membentuk deposit kapur dibanding karang ahermatipik
Pembentukan terumbu karang hermatipik dimulai adanya individu
karang
(polip) yang dapat hidup berkelompok
(koloni) ataupun menyendiri
(soliter). Karang yang hidup berkoloni membangun rangka kapur dengan berbagai
bentuk, sedangkan karang yang hidup sendiri hanya membangun satu bentuk rangka kapur. Gabungan
beberapa bentuk rangka
kapur tersebut disebut
terumbu.
1.
Terumbu
karang Tepi (Fringing reefs)
Eboni
1996 menyatakan, “bentuk terumbu karang ini berkembang di sepanjang pantai pada
kedalaman tidak lebih dari 40 meter. Terumbu ini tumbuhnya kearah permukaan
sekaligus keluar ke jurusan lautan lepas”.


Gambar 2.
Terumbu Karang Tepi
(Sumber
: FL Colin/www.Coralreefsfresearchfoundation.org)
Terumbu
karang tepi adalah terumbu yang tumbuh relatif tidak jauh dari garis pantai
dimana terumbu tepi ini tumbuh keatas dan kerah laut. Terumbu karang yang
tumbuh cukup dekat dari pantai sehingga karang tepi dapat tumbuh dengan baik
karena mendapatkan cahaya yang optimum, dan juga terdapat arus dimana arus
tersebut dapat menghalangi pengendapan yang dapat menutupi polip karang dan
arus tersebut dapat memberikan oksigen yang banyak untuk pertumbuhan karang
pada bagian tepi ini.
2.
Terumbu
Karang Penghalang (Barrier Reefs)
Eboni,
1996 “ bentuk terumbu karang penghalang ini berada pada jarak yang berjauhan
dengan pantai dan dipisahkan oleh suatu goba (Lagoon) dengan kedalaman bisa mencapai 40-75 meter umumnya terumbu
karang tipe ini berbentuk memanjang mengikuti lekuk pantai dan sering
terputus-putus.
Terumbu
karang penghalang letaknya agak jauh dari pantai, diantarai oleh laut yang
cukup dalam. Umumnya memanjang menyusuri pantai dan biasanya berputar-putar dan
seakan-akan merupakan penghalang bagi pendatang yang datang dari luar. Contoh
yang terkenal adalah Great barrier reef
yang membentang di timur australia dimana banyak kepala karang yang sampai
kepermukaan, ini menyebabkan karang penghalang ini dapat tumbuh dengan cepat
karena hidup di permukaan sehingga zooxanthellae yang bersimbiosis dalam
jaringan hewan karang dapat tumbuh dengan baik.


Gambar
3. Wistari dan Heron (kiri) adalah 2 terumbu yang membentuk Great Barrier Reef,
Heron karang (kanan). Sumber http://www.marinebio.net.

Gambar
4. Terumbu karang penghalang
(Sumber
: Foto QT Luong/Terragalleria.com)
3.
Terumbu Karang Cincin (Attol Reef)
Eboni,
1996 menyatakan, seperti halnya terumbu karang penghalang. Terumbu karang
cincin bertumpu pada dasar yang kedalamannya di luar batas jarang mencaoai 100
meter. Nybakken (1988), menyatakan bahwa atol merupakan terumbu karang cincin
yang lataknya jauh dari daratan, sedangkan terumbu karang penghalang dan
terumbu karang tepi letaknya lebih dekat dengan daratan, meskipun terumbu
karang penghalang memiliki jarak dengan daratan yang lebih jauh dibanding
terumbu tepi.
Atol
adalah terumbu karang berbentuk cincin yang biasanya terdapat di laut dalam. Di
tengah-tengahnya terdapat semacam danau air asin yang dikenal dengan nama
laguna atau bentuknya melingkar mengelilingi sebuah laguna dimana laguna
tersebut sebagai pusat. Dan para ahli berpendapat bahwa atol ini berasal dari
terumbu karang tepi yang tumbuh disekeliling suatu pulau vulkanik. Dan karena
sebab tertentu pulau vulkanik itu tenggelam dengan perlahan-lahan dengan teumbu
yang terus tumbuh itu dapat mengimbangi dan bertahan tumbuh dipermukaan laut
menjadi atol.



Gambar
5. Terumbu karang atoll, Sumber : Foto www.webtime.ch/bilder/atoll.jpg
B.
Karakteristik
Ekosistem Terumbu Karang
1)
Ekologi
Karang
Faktor-faktor
fisik-kimia yang dapat mempengaruhi laju kehidupan atau pertumbuhan karang,
(Sorokin, 1993). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan atau
pertubuhan karang diantaranya adalah suhu, salinitas, kedalaman, cahaya
matahari, kekeruhan, substrat, arus dan gelombang. Berikut penjelasan beberapa
faktor lingkungan pembatas kehidupan karang:
ü
Suhu
Suhu
mempengaruhi kecepatan metabolisme, reproduksi dan perombakan bentuk luar dari
karang. Suhu paling baik untuk pertumbuhan karang berkisar 23-30oC.
Temperatur dibawah 18oC dapat menghambat pertumbuhan karang bahkan
dapat mengakibatkan kematian. temperatur diatas 33oC dapat
menyebabkan gejala pemutihan (bleaching), yaitu keluarnya zooxanthella dari
polip karang dan akibat selanjutnya dapat mematikan karang (Sorokin, 1993).
ü
Cahaya dan
kedalaman
Kedua faktor
tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh
zooxantellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang
hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan
umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk
karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan
intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.
ü
Salinitas
Secara
fisiologis, salinitas mempengaruhi kehidupan hewan karang karena adanya tekanan
osmosis pada jaringan hidup. Salinitas optimal bagi kehidupan karang berkisar
30-35 o/oo. Karena itu karang jarang ditemukan hidup di daerah muara
sungai besar, bercurah hujan tinggi atau perairan dengan salinitas yang tinggi.
ü
Kekeruhan
Kekeruhan
yang tinggi menyebabkan terhambatnya cahaya matahari masuk kedalam air dan
selain mengganggu proses fotosintesis zooxanthella juga mengganggu polip karang
dngan semakin banyaknya mucus yang dikeluarkan untuk melepaskan partikel yang
jatuh di tubuh karang. Sedimentasi yang tinggi dapat menutupi dan akhirnya akan
mematikan polip karang.
ü
Substrat
Substrat
yang keras dan bersih dari lumpur diperlukan untuk perlekatan larva karang (planula)
yang akan membentuk koloni baru. Substrat keras ini berupa benda padat yang ada
di dasar laut, misalnya batu, cangkang mollusca, potongan kayu bahkan besi yang
terbenam.
ü
Arus
Faktor arus
dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan
bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan
bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan
menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.
ü
Gelombang
Gelombang
merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak
struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya
terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi
gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan
membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang.
2)
Bentuk
Pertumbuhan
Variasi bentuk pertumbuhan karang (lifeform) sebagai berikut :
a)
Bentuk
bercabang (Branching). Karang seperti ini memiliki cabang dengan ukuaran cabang
lebih panjang dibandingkan dengan ketebalan atau diameter yang dimilikinya.

Gambar 4. Bentuk karang Brancing
b)
Bentuk padat
(massive). Karang ini memiliki koloni yang keras dan umumnya berbentuk bulat,
permukaannya halus dan padat, ukurannya bervariasi mulai dari sebesar telur
sampai sebesar ukuran rumah.

Gambar 5.
Benuk karang massive
c)
Bentuk
merambat (encrasting), karang ini tumbuh merambat dan menutupi permukaan dasar
terumbu, memiliki permukaan kasar dan keras serta lubang-lubang kecil.
d)
Bentuk meja
(tabulate), karang ini tumbuh membentuk menyerupai meja dengan permukaan lebar
dan datar serta di topang oleh semacam tiang penyangga yang merupakan bagian dari koloninya.



Gambar 6.
Bentuk karang tabulate
e)
Bentuk daun
(foliose). Karang ini tumbuh
membentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil,
dan membentuk lipatan-lipatan melingkar.


Gambar 7.
Bentuk Karang Foliose
f)
Bentuk jamur
(mushroom), karang ini terdiri dari
satu buah polip yang membentuk oval dan tampak seperti jamur memiliki banyak
tonjolan seperti punggung bukit yang beralur dari tepi ke pusat.

Gambar 8.
Bentuk karang Jamur
3)
Biologi
Karang
Terumbu karang adalah struktur di
dasar laut berupa deposit kalsium karbonat yang dihasilkan terutama oleh hewan
karang. Karang adalah hewan tak bertulang belakang (Invertebrata) yang termasuk
dalam filum Cnidaria atau Coelenterata (hewan berongga). Karang (coral)
umumnya berasal dari ordo Scleractinia, subkelas Octocorallia, kelas Anthozoa.
Satu individu karang atau polip memiliki ukuran yang bervariasi (1 mm hingga 50
cm) namun umumnya berukuran kecil, misalnya karang dari genera Acropora,
Anacropora, Montipora, dan Pocillopora. Polip berukuran
besar umumnya ditemukan pada karang soliter, misalnya genus Fungia
(Timotius, 2003). Asosiasi-asosiasi organisme yang dominan hidup dan juga
membentuk terumbu adalah alga berkapur (coralline algae) (Dawes 1981;
Supriharyono 2000).
Polip karang merupakan hewan
sederhana berbentuk tabung dengan bagian-bagian tubuh sebagai berikut :
a.
Mulut terletak di bagian atas, dikelilingi oleh
tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan (Suharsono 1996;
Timotius 2003) dan sebagai alat pertahanan diri (Timotius, 2003).
b.
Tenggorokan pendek, rongga tubuh (coelenteron)
merupakan saluran pencernaan.
c.
Tubuh terdiri atas dua lapisan, ektoderm dan endoderm
(gastrodermis), diantara keduanya dibatasi oleh lapisan mesoglea (Timotius,
2003). Lapisan ektoderm mengandung nematokista (nematocyst) dan sel
mukus, sedangkan lapisan endodermisnya mengandung simbion zooxanthellae
(Suharsono, 1996).
d.
Sistem saraf, otot, dan reproduksi masih sederhana
namun telah berkembang dan berfungsi dengan baik (Suharsono, 2004).
Makanan utama karang adalah
zooplankton (Castro and Huber, 2005) yang ditangkap dengan menggunakan sel
penyengat (cnidoblast) yang terdapat di ektodermis tentakelnya. Sel
penyengat tersebut dilengkapi dengan alat penyengat (nematocyst) yang
mengandung racun. Sel penyengat hanya aktif pada saat ada mangsa (zooplankton),
terutama pada saat malam hari (Timotius, 2003).
Karang
memperoleh sebagian besar energi dan nutrisinya melalui dua cara, yaitu melalui
hasil fotosintesis oleh zooxanthellae atau secara langsung menangkap
zooplankton dari kolom perairan (Lesser, 2004).
4) Reproduksi Karang
Proses
reproduksi karang dapat dibagi menjadi 2 cara yaitu dengan cara aseksual dan
seksual :
1.
Secara Aseksual adalah
reproduksi karang yang terjadi melalui proses pertunasan,
fragmentasi, polip bail-out, dan parthenogeneis :
ü Pertunasan
secara intratentakular adalah satu polip membelah menjadi dua polip, polip yang
baru tumbuh dari polip yang lama. Pertunasan ekstratentakular yaitu tumbuhnya
polip baru diantara polip-polip lama.
ü Fragmentasi.
Koloni baru terbentuk oleh patahan karang. Patahan koloni karang yang lepas
dapat menempel di dasar perairan dan membentuk tunas serta koloni yang baru.
Proses ini terutama terjadi pada karang bercabang (branching coral) yang
mudah sekali patah namun memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat.
ü Polip
bail-out. Polip bailout adalah pembentukan polip dan koloni dari karang
mati. Pada karang yang mati, kadang kala jaringan-jaringan yang masih hidup
dapat meninggalkan skeletonnya dan terbawa oleh air. Jika jaringan hidup
tersebut menempel pada substrat yang sesuai, maka jaringan tersebut dapat
tumbuh dan membentuk polip serta koloni baru. Pada karang Seriatopora
hystrix, proses polyp bail-out ini merupakan respon terhadap stress
sekaligus sebagai proses reproduksi. Individu polip awalnya menempel pada
rangka kapur yang lama, lalu terbawa oleh arus air, kemudian melekat pada
substrat yang baru (Sammarco, 1982).
ü Parthenogenesis adalah
pertumbuhan larva karang dari sel telur yang tidak terbuahi.
2.
Secara Seksual adalah Reproduksi
secara seksual terjadi melalui proses peleburan inti gamet jantan dengan inti
gamet betina. Karang umumnya bersifat gonochoris (sel gamet jantan dan betina dihasilkan oleh
individu yang berbeda) meskipun beberapa species bersifat hermaphrodite (sel gamet jantan
dan betina dihasilkan oleh individu yang sama). Berdasarkan
proses pertemuan antara sel gamet jantan dan betina terdapat dua tipe
reproduksi, yaitu planulator
(brooding) dan spawning. Pada tipe brooding,
sel telur dan sperma tidak dilepaskan ke kolom air. Zigot berkembang menjadi
larva planula dalam tubuh polip induk, selanjutnya planula dilepaskan ke kolom
air. Tipe reproduksi ini misalnya terjadi pada karang Pocillopora damicornis
dan Stylophora sp. Karang tipe spawning melepaskan ovum dan
sperma kedalam kolom air, dan fertilisasi terjadi beberapa jam setelah ovum dan
sperma dilepaskan. Spawning ini seringkali terjadi secara massal,
sehingga disebut mass spawning. Reproduksi spawning misalnya
terjadi pada karang genus Favia. Peristiwa mass spawning dapat
terjadi selama beberapa hari atau beberapa bulan (Timotius, 2003).

Gambar 2. Reproduksi Seksual
Menurut seksualitasnya,
karang dibagi menjadi karang hermaphrodit dan gonokorik. Karang hermaphrodit
adalah karang yang menghasilkan gamet jantan dan betina dalam koloni yang sama
atau polip yang sama. Sedangkan gonokorik adalah koloni karang yang gamet jantan
dan betinanya terdapat dalam 2 individu yang berlainan.
C.
Flora
Dan Fauna Terumbu Karang
a)
Flora
Alga atau rumput laut
yang biasa ditemui di daerah terumbu karang adalah jenis selada laut Ulva, anggur laut Caelerpa, yang termasuk dalam alga hijau; serta rumput laut Euchema dan jamur laut Padina yang termasuk ke dalam jenis alga
coklat.
Ganggang
(alga) merupakan suatu kelompok tumbuh-tumbuhan yang besar dan beraneka ragam
yang biasanya terdapat di dalam lingkungan akuatik. Mereka adalah produsen
primer, seperti yang telah diterangkan, mampu menangkap energi surya dan menggunakannya
untuk menghasilkan gula dan senyawa majemuk lainnya dengan menyimpan energi. Lamun
adalah salah satu vegetasi yang hidup di sekitar terumbu karang. Lamun
mempunyai manfaat sebagai perangkap sedimen.
b)
Fauna
1.
Avertebrata
Hewan karang dari filum Cnidaria merupakan kelompok- kelompok
utama dari dunia hewan yang sangat penting dalam ekologi terumbu karang. Filum
Cnidaria itu dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu hydroid, ubur- ubur dan
Anthozoa. Berbagai jenis cacing hidup di terumbu karang. Kebanyakkan memiliki
ukuran kecil dan tidak kelihatan. Cacing berperan dalam proses erosi yang
dilakukan oleh hewan secara alami, yang disebut bioerosi, dari batuan
kapur menjadi pecahan kapur sampai ke pasir dengan mliang pada batuan tadi.
Crustacea merupakan
klompok yang amat terkenal dari filum Arthropoda yang hidup dalam terumbu
karang. Mereka terdiri dari teritip, kepiting, udang, lobster dan udang
karang.
Banyak hewan Crustacea ini mempunyai hubungan khusus dengan hewan
lain di terumbu karang. Teritip menempel pada beberapa substrat seperti penyu
dan kepiting; udang pembersih dengan beberapa ikan; atau udang kecil berwarna
dengan anemone.
Molusca menyumbangkan
cukup banyak kapur kepada ekosistem terumbu yang merupakan penyumbang penting
terbentuknya pasir laut. Keanekaragaman Mollusca memainkan peranan penting di
dalam jaringan makanan terumbu karang yang rumit ini. Mereka juga menjadi dasar
bagi perdagangan besar cangkang hias dan penunjang utama perikanan kerang dan
cumi- cumi.
Echinodermata
adalah penghuni perairan dangkal dan umumnya terdapat di terumbu karang dan
padang lamun. Bintang laut yang omnivora memakan apa saja mulai dari, teritip,
keong dan kerang. Teripang mendiami sebagain besar terumbu karang dan memakan
alga dan detritus dasar. Mereka mempunyai alami sedikit dan manusia barangkali
yang menjadi pemangsa yang rakus.
Sponge
merupakan sekelompok hewan yang paling sederhana di antara seluruh penghuni
laut. Dalam struktur taksonomi, sponge merupkan nama lain dari Filum Porifera.
Dengan tubuh yang diselimuti oleh jutaan pori-pori, sponge merupkan hewan lunak
yang menyerap air dan menyaring bahan organik air laut sebagai makanannya
(Ruppert & Barnes, 1994). Baik bentuk maupun warna dari sponge ini sangat
beragam mulai dari yang berbentuk tabung, gumpatan, hingga seperti mangkok
besar. Warnanya juga demikian, mulai dari coklat pucat hingga merah menyala.
Struktur sponge yang hanya ditopang oleh spikula-spikula fiber, membuatnya agak
lentur, namun tetap dapat berdiri kokoh.
Anemon
laut mempunyai struktur yang tidak jauh berbeda dengan polip karang keras,
kecuali adanya perbedaan pada ukuran, dimana polip karang berukuran
mikroskopis, sedangkan anemon laut berukuran cukup besar. Selain itu, hal yang
mendasar adalah bahwa polip karang umumnya membentuk kloni dan mempunyai
kemampuan untk mengendapkan kapur (hermatipik), sedangkan anemon laut cenderung
bersifat soliter dan sama sekali
2.
Ikan Karang
Ikan karang terbagi dalam 3 (tiga) kelompok yaitu:
(1) Ikan
target yaitu ikan-ikan yang lebih dikenal oleh nelayan sebagai ikan konsumsi
seperti Famili Serranide, Lutjanidae, Haemulidae, Lethrinidae;
(2) Kelompok
jenis indikator yaitu ikan yang digunakan sebagai indikator bagi kondisi
kesehatan terumbu karang di suatu perairan seperti Famili Chaetodontidae; dan
(3) Kelompok
ikan yang berperan dalam rantai makanan, karena peran lainnya belum diketahui
seperti Famili Pomacentridae, Scaridae, Acanthuridae, Caesionidae, Siganidae,
Muliidae, Apogonidae (Adrim, 1993).
Banyak ikan yang mempunyai daerah hidup di terumbu karang dan
jarang dari ikan-ikan tersebut keluar daerahnya untuk mencari makanan dan
tempat perlindungan. Batas wilayah ikan tersebut didasarkan pada pasokan
makananan, keberadaan predator, daerah tempat hidup, dan daerah pemijahan.
3.
Reptilia
Reptiilia yang terdapat pada ekosistem terumbu karang hanya
dua kelompok yaitu, ular laut dan penyu. Dua klompok ini terancam punah. Ular
ditangkap untuk kulitnya, dan penyu terutama untuk telurnya.
D.
Manfaat
Ekosistem Terumbu Karang Terhadap Manusia
Terumbu karang
mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi
maupun ekonomi. Menurut Cesar (1997) estimasi jenis manfaat yang terkandung
dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung
dan manfaat tidak langsung.
Manfaat dari terumbu
karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah pemanfaatan sumber
daya ikan, batu karang, pariwisata, penelitian dan pemanfaatan biota perairan
lainnya yang terkandung di dalamnya. Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan
tidak langsung adalah seperti fungsi terumbu karang sebagai penahan abrasi
pantai, keanekaragaman hayati dan lain sebagainya.
Terumbu karang memiliki
banyak manfaat bagi kehidupan ekosistem laut
maupun kehidupan manusia. Bagi kehidupan ekosistem laut, terumbu karang
memiliki manfaat sebagai teman hidup dan berlindung beragam hewan laut, seperti
ikan kerapu, ikan baronang, kepiting, udang, ubur-ubur, dan lain-lain. Terumbu
karang juga menjadi tempat berlindung hewan-hewan yang hamper punah, seperti
kima raksasa dan penyu laut.
Bagi
kehidupan manusia, terumbu karang bermanfaat sebagai pelindung pantai dari
kerusakan yang disebabkan oleh gelombang atau ombak laut sehingga manusia dapat
hidup di daerah dekat pantai. Manusia juga dapat menangkap hewan-hewan laut
yang hidup di terumbu karang. Mereka sumber protein tinggi yang dibutuhkan oleh
tubuh manusia.
Manusia
dapat menjadikan terumbu karang sebagai objek penelitian untuk pengembangan
ilmu pengetahuan. Manusia juga dapat memperoleh bahan dasar untuk pembuatan
obat yang dapat menyembuhkan beragam penyakit, seperti kanker dan kerapuhan
tulang. Keindahan terumbu karang juga bias dijadikan objek wisata bahari yang
menarik. Wisatawan yang dating melihat terumbu karang tentu akan memberikan
penghasilan bagi penduduk sekitar dan devisa Negara.
a)
NILAI BIO-EKOLOGI
Manfaat
secara bio-ekologi ekosistem terumbu karang adalah :
ü Penyedia pangan (bidang perikanan)
ü Pelindung pantai sebagai pemecah ombak dan badai
ü Tempat hidup, berpijah, bertelur, mencari makan biota laut
ü Sebagai pencatat iklim atau gejala masa lalu.
ü Penghasil berbagai macam bahan baku obat
ü Penyerap karbon.
b)
NILAI SOSIO-EKONOMI
Interaksi antara komponen biotik dan abiotik dan dibutuhkan masyarakat
untuk mendukung perekonomiannya sebagai berikut :
ü
Terumbu karang, baik tradisional maupun komersial memberikan sumbangan yang
besar untuk meningkatkan kehidupan masyarakat.
ü
Kegiatan wisata bahari yang bertumpu pada terumbu karang yang memiliki
nilai estetika yang tinggi meningkatkan pendapatan daerah dan nasional.
ü
Keanekaragaman karang dan ikan hias merupakan potensi perdagangan yang
cukup besar terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar